Layanan

AI Computer Vision untuk Peternakan

Model computer vision generik yang dilatih dengan dataset internet tidak akan mengenali ayam Indonesia, perilaku sapi feedlot lokal, atau kondisi cahaya kandang closed-house di Jawa. Agric.id membangun model AI computer vision yang spesifik untuk peternakan — dilatih dengan footage farm asli, dideploy di edge, dan diintegrasikan ke sistem operasional supaya bukan sekadar dashboard yang dilihat sekali sebulan.

Apa yang kami kerjakan

Use case AI computer vision yang sudah kami bangun atau sedang dikembangkan untuk sektor agri & pangan:

  • Surveillance biosekuriti — deteksi pelanggaran SOP biosekuriti (orang masuk tanpa disinfeksi, kendaraan tidak teregistrasi, hewan liar di area kandang).
  • Livestock counting — perhitungan populasi otomatis di kandang skala besar tanpa harus stop operasional.
  • Behavior detection — deteksi pola perilaku abnormal (heat stress, fighting, lameness pada sapi) yang mendahului masalah produksi.
  • Quality grading — grading otomatis telur, karkas, atau produk olahan berdasarkan ukuran, warna, dan defect.

Pengalaman

Latar belakang tim yang membangun software farming end-to-end memberi kami sesuatu yang jarang dimiliki vendor AI murni: pemahaman tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan farm crew di lapangan. AI yang memberi alert palsu setiap menit akan diabaikan; AI yang dipasang tanpa konteks operasional akan jadi gimmick. Kami membangun setiap model dengan asumsi sederhana — kalau farm manager tidak menyentuh dashboard-nya selama seminggu, sistemnya tetap harus bekerja untuk dia.

Untuk perusahaan yang ingin menjaga data sensitif di on-prem, kami juga sediakan opsi LLM private berbasis Gemma family yang di-fine-tune untuk data operasional Anda — bagian dari pendekatan teknologi yang lebih luas yang kami tawarkan.

Pendekatan

  • 1. Train ulang dengan footage Anda. Model dasar (YOLO, vision transformers) tidak dipakai apa adanya. Kami collect data di kandang Anda dulu, baru fine-tune supaya akurasi cocok dengan kondisi nyata.
  • 2. Edge-first deployment. Inferensi dijalankan di edge device dekat kamera (NVIDIA Jetson, Mini-PC) sehingga latency rendah, bandwidth hemat, dan tidak tergantung internet kandang yang sering putus.
  • 3. Integrasi ke ERP & alur kerja. Output model masuk ke sistem ERP atau aplikasi operasional, bukan sekadar dashboard terpisah. Alert ter-prioritize, false-positive rate dipantau.
  • 4. Continuous improvement. Model di-retrain berkala dengan data baru. Performa diukur dengan metrik yang masuk akal buat manajemen — bukan precision/recall di vacuum.

Case study terkait

Punya use case AI yang mau dijajaki?

Kami senang menilai feasibility-nya secara jujur — termasuk kalau jawabannya adalah “Anda tidak perlu AI untuk masalah ini”.

Diskusikan proyek Anda